Tuesday, August 01, 2006
You've beautifull
Be My Lady, itu adalah ucapan sakral seseorang yang ingin mengikat mentel sutranya kepada seorang gadis berperawakan manis yang duduk di pinggir lapangan. Dan itu adalah hal yang sering kuucapkan pada seseorang. Dan itu tidak pernah berakhir seperti dongeng dan tidak pernah bermula lagi. Meski pada sembilan belas titik dalam tubuhku telah tertancap panah cinta padanya -aku tak kenal lagi hal-hal yang lain- aku tidak mau lagi mengatakan ini padanya. Seiring waktu berjalan, aku mulai membayangkan dia, dalam mimpiku. Masih saat kuberi dia sekotak coklat Cadburry yang kubeli dari hasil kerjaku di salah satu koran Semarang. Dan coklat itu kuhiasi dengan pita warna warni yang begitu indah, dan “tidak” adalah kata pertama yang diucapkan, sebelum kata “mau”. Insiden itu adalah tolak dari semua perilaku, tatapan, perasaan, pikiran, pengucapan, pengelihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, dan peraba. Dan hari-hariku menjadi suram, gelap dan selalu gelap, beberapa waktu aku selalu menyerah. Dan aku ingin mengibarkan bendera putih di depan pintu hatiku, sebelum mengibarkan bendera kuning di depan pintu rumahku.
Sampai akhirnya sesuatu yang cantik datang padaku, sesuatu yang indah dan cantik. Dia menghilangkan awan hitam pada sebuah taman bunga. Menghidupkan rumput-rumput yang telah mati, menyegarkan bunga-bunga di taman, serta membuat burung-burung kembali berterbangan. Sesuatu yang cantik itu datang menghampiri jasadku, duduk, dan tersenyum. Dia membuka dua kancing kemejaku, dan memegang jantungku yang terus menerus mengeluarkan darah karena terluka. Dia menutupnya dengan tangannya dan tersenyum, dia berkata pada seekor musang hutan yang lewat “ setiap malam dalam mimpiku, aku selalu bertemu pria ini, dialah yang akan membuka gaun pengantinku, membicarakan hal-hal yang telah kita lewati dan melompat pada garis akhir, dia tidak pernah menyukai fisika dan kimia, dia hanya menyukai Raandritha.”. Rubah hutan itupun lewat dan hanya berkata “ Kamu suka, apabila kamu suka aku akan memberikan rohnya kepadamu agar dia dapat kembali bernafas, agar dia dapat kembali melihat, agar dia dapat kembali tersenyum, dan yang penting, agar dia dapat merasakan cintanya kembali, maka, temanilah dia, sehingga dia merasa telah hembali kepada tuhannya.” Setelah itu pergilah rubah hutan itu. Kemudian rohku kembali masuk ke dalam ragaku. Bunga mekar itu tertutup kembali. Aku telah merasahan sesuatu aura yang masuk ke dalam hatiku. Dan aku mendapati telah berada dalam pelukan seorang yang cukup brilian. Hangat, begitu hangat sehingga aku dapat merasakan jauh lebih baih dari yang pertama, jauh lebih hangat dari yang pertama, jauh lebih sakral, dan jauh lebih kidung. Aku buka mata dan melihat rambutnya, dan kemudian dia melepas kacamatanya. Dan kutanya namanya. Dan dia menjawab “ Raandritha”.
Apakah kau suka padaku……
Dan mencintaiku pelan pelan………
Ingin kupandang wajah dibalik ayumu yang merona itu……
Ingin kutatap mata jernihmu dibalik kacamatamu……
Namun ku tak berani…………
Aku hanyalah keju yang tidak berharga dari sombongnya matahari………
Yang diwaktu fajar kemilaunya menyinari………
Hatiku…..Hatiku terlalu angkuh untuk membuai seekor lebah………
Buat pemeluk sejati……………
Aku salut, salut sekali terhadap remang-remang senja……
Membawaku pada fatamorgana Asmara………
Menatap pohon-pohon yang menjadi suram………
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin………
Dialah yang pertama menggandeng tanganku dengan tulus, tersenyum ketika aku memandangnya, tertawa ketika aku tersenyum. Aku hanya ingin hal ini bukan kekeliruan tetapi sebuah titik balik pada perasaan, bukan dari pikiran bahwa dia harus menyelamatkan aku dari lembah warna-warni palsu ke dalam suatu permainan pikiran. Aku mengajaknya melihat sebuah film, dan memengang tanganku ketika ketakutan. Aku sering ke istananya, mengajarinya cara membuat friendster dan mengajarinya memasak. Terlebih ketika dia mengajakku ke sebuah pura, melihat indahnya Semarang pada siang hari, dan mengajakku berfikir memasuki khayalan dalam diriku sendiri. Dia berfikir begitu keras untuk dapat menyenangkanku sedikit saja. Hingga pada suatu hari yang cukup tenang dan begitu indahnya, matahari enggan memancarkan sinarnya secara berlebihan. Hal itu membuat kami senang dan segera beranjak pergi ke pinggir pura tersebut. Aku mengeluarkan sayap merpatiku dan dia mengeluarkan sayap capungnya, dia memegang tanganku dan memejamkan mata, Dia menjelma dalam suatu permainan emosi, menjadi seberkas malaikat yang di ciptakan dari cahaya, sama seperti seberkas malaikat. Hal itu membuat diriku merasa begitu sempurna, begitu maju dan menjadi seorang yang berbeda,. Aku mulai mencintai tuhanku sama seperti dia mencintai tuhannya. Aku menjadi sebuah terapan dalam merahnya hidupku merasa baru dan dia menyiramkan air yang mengalir dalam dirinya ke telapak tanganku, dan membasuhnya sama seperti apa yang diajarkan olehku.
Sejak aku menemukan dia di dalam kesendirianku, sekarang aku telah ramai, ramai akan sesuatu yang sepi. Aku merasakan berada di Baker Street dan dia sebagai jack the ripper. Sepertinya aku tidak membutuhkan makan, aku lebih baik berdiam di kamarku dan berfikir bagaimana hidup seharusnya terjadi. Itulah yang aku bayangkan. Aku terjerumus ke dalam dua sisi manusia yang serba separatis, dan tentu saja dilematis. Dan dia menjawabku ! Dia menjadi seratus kali lebih sempurna daripada orang lain ketimbang dariku. Dia mengajariku banyak hal baru, seperti bagaimana mencari kawan, bagaimana menjadi pecinta sejati, bagaimana menjadi manusia yang sempurna terhadap suatu peristiwa cinta, bagaimana agar kita dapat mengasihi sesama, bagaimana kita dapat mencintai yang lahir, menghormati yang hidup dan menghargai yang mati. Hal itu semuanya kupelajari satu persatu, terlebih ketika dalam keseharian.
Sampai akhirnya sesuatu yang cantik datang padaku, sesuatu yang indah dan cantik. Dia menghilangkan awan hitam pada sebuah taman bunga. Menghidupkan rumput-rumput yang telah mati, menyegarkan bunga-bunga di taman, serta membuat burung-burung kembali berterbangan. Sesuatu yang cantik itu datang menghampiri jasadku, duduk, dan tersenyum. Dia membuka dua kancing kemejaku, dan memegang jantungku yang terus menerus mengeluarkan darah karena terluka. Dia menutupnya dengan tangannya dan tersenyum, dia berkata pada seekor musang hutan yang lewat “ setiap malam dalam mimpiku, aku selalu bertemu pria ini, dialah yang akan membuka gaun pengantinku, membicarakan hal-hal yang telah kita lewati dan melompat pada garis akhir, dia tidak pernah menyukai fisika dan kimia, dia hanya menyukai Raandritha.”. Rubah hutan itupun lewat dan hanya berkata “ Kamu suka, apabila kamu suka aku akan memberikan rohnya kepadamu agar dia dapat kembali bernafas, agar dia dapat kembali melihat, agar dia dapat kembali tersenyum, dan yang penting, agar dia dapat merasakan cintanya kembali, maka, temanilah dia, sehingga dia merasa telah hembali kepada tuhannya.” Setelah itu pergilah rubah hutan itu. Kemudian rohku kembali masuk ke dalam ragaku. Bunga mekar itu tertutup kembali. Aku telah merasahan sesuatu aura yang masuk ke dalam hatiku. Dan aku mendapati telah berada dalam pelukan seorang yang cukup brilian. Hangat, begitu hangat sehingga aku dapat merasakan jauh lebih baih dari yang pertama, jauh lebih hangat dari yang pertama, jauh lebih sakral, dan jauh lebih kidung. Aku buka mata dan melihat rambutnya, dan kemudian dia melepas kacamatanya. Dan kutanya namanya. Dan dia menjawab “ Raandritha”.
Apakah kau suka padaku……
Dan mencintaiku pelan pelan………
Ingin kupandang wajah dibalik ayumu yang merona itu……
Ingin kutatap mata jernihmu dibalik kacamatamu……
Namun ku tak berani…………
Aku hanyalah keju yang tidak berharga dari sombongnya matahari………
Yang diwaktu fajar kemilaunya menyinari………
Hatiku…..Hatiku terlalu angkuh untuk membuai seekor lebah………
Buat pemeluk sejati……………
Aku salut, salut sekali terhadap remang-remang senja……
Membawaku pada fatamorgana Asmara………
Menatap pohon-pohon yang menjadi suram………
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin………
Dialah yang pertama menggandeng tanganku dengan tulus, tersenyum ketika aku memandangnya, tertawa ketika aku tersenyum. Aku hanya ingin hal ini bukan kekeliruan tetapi sebuah titik balik pada perasaan, bukan dari pikiran bahwa dia harus menyelamatkan aku dari lembah warna-warni palsu ke dalam suatu permainan pikiran. Aku mengajaknya melihat sebuah film, dan memengang tanganku ketika ketakutan. Aku sering ke istananya, mengajarinya cara membuat friendster dan mengajarinya memasak. Terlebih ketika dia mengajakku ke sebuah pura, melihat indahnya Semarang pada siang hari, dan mengajakku berfikir memasuki khayalan dalam diriku sendiri. Dia berfikir begitu keras untuk dapat menyenangkanku sedikit saja. Hingga pada suatu hari yang cukup tenang dan begitu indahnya, matahari enggan memancarkan sinarnya secara berlebihan. Hal itu membuat kami senang dan segera beranjak pergi ke pinggir pura tersebut. Aku mengeluarkan sayap merpatiku dan dia mengeluarkan sayap capungnya, dia memegang tanganku dan memejamkan mata, Dia menjelma dalam suatu permainan emosi, menjadi seberkas malaikat yang di ciptakan dari cahaya, sama seperti seberkas malaikat. Hal itu membuat diriku merasa begitu sempurna, begitu maju dan menjadi seorang yang berbeda,. Aku mulai mencintai tuhanku sama seperti dia mencintai tuhannya. Aku menjadi sebuah terapan dalam merahnya hidupku merasa baru dan dia menyiramkan air yang mengalir dalam dirinya ke telapak tanganku, dan membasuhnya sama seperti apa yang diajarkan olehku.
Sejak aku menemukan dia di dalam kesendirianku, sekarang aku telah ramai, ramai akan sesuatu yang sepi. Aku merasakan berada di Baker Street dan dia sebagai jack the ripper. Sepertinya aku tidak membutuhkan makan, aku lebih baik berdiam di kamarku dan berfikir bagaimana hidup seharusnya terjadi. Itulah yang aku bayangkan. Aku terjerumus ke dalam dua sisi manusia yang serba separatis, dan tentu saja dilematis. Dan dia menjawabku ! Dia menjadi seratus kali lebih sempurna daripada orang lain ketimbang dariku. Dia mengajariku banyak hal baru, seperti bagaimana mencari kawan, bagaimana menjadi pecinta sejati, bagaimana menjadi manusia yang sempurna terhadap suatu peristiwa cinta, bagaimana agar kita dapat mengasihi sesama, bagaimana kita dapat mencintai yang lahir, menghormati yang hidup dan menghargai yang mati. Hal itu semuanya kupelajari satu persatu, terlebih ketika dalam keseharian.
